Malabar berlari

22 Desember, 15:33
Menuju Kediri, perlahan melewati dan menulusuri kota Bandung. Menuju ke timur jauh, meninggalkan kota ini. Maka tidaklah salah, liburan kali ini tetap seperti biasanya. Bepergian seorang diri, untuk menimba ilmu, kemudian mencari dan terus menyusuri tanda-tanda kekuasan Allah swt.

Daru bilik jendela kemudian aku tersadar, bahwa perjalanan bukanlah pembenaran. Tapi perjalanan adalah petualangan menemukan dan belajar mengenai hal-hal baru. Langit bahkan berontak, merintih tiada asa. Bumi pula tiada berkata, tetap diam berselimut kabut yang harus dilewati satu persatu.

Bunyi kereta semakin terhentak, gesekan antar rel bahkan semakin terasa kencang.  Kereta ini terus berlali menuju ke timur. 
Dipotret dari jendela Malabar.
22 Desember, 15:50
Berhenti di stasiun Bandung berikutnya. Berjodoh untuk bertemu seorang teman, seorang Praja IPDN, Agustya Febri Anderan. Ah dunia memang sempit.

22 Desember, 16:20
Melihat bangku disebelah aku kosong, maka seorang ibu yang nampaknya risih karena bersempit-sempitan akhirnya pindah kesebelah aku. Teman baru lagi, beliau sungguh baik, berasal dari Malang.

22 Desember, 17:50
Penumpang asli datang pada stasiun berikutnya. Bangku kosong di sebelah aku akhirnya terisi, seorang pekerja muda. Bercerita banyak. Lulusan Informatika yang bekerja di Bank Danamond. Ah cerita yang menarik, salam kenal.

23 Desember, 00:00
Kereta sampai di Yogyakarta, aku bahkan belum bisa tertidur. Terjaga penuh.

23 Desember, 03.00-04.20
Secara berurutan berhenti di Ngawi-Madiun-Karapitan-Ngajuk dll.

23 Desember, 04.30
Turun di stasiun Kediri. Ah hawanya memang berbeda. disambut dengan rintik hujan yang menawan.

Nampaknya Malabar telah berlari kearah yang tepat.

You May Also Like

0 komentar