Catatan dari Istora

Ingat motivasi untuk berkarya. Hingga walau seluruh gelap menyelimuti, engkau tetap tegak berdiri - Tere Liye
Catatan dari Istora, tentang mengingat-ngingat kembali hakikat akan ketulusan. Lantas dulu dikau pernah mendapatkan pertanyaan, untuk apa gerangan dikau menulis? Nampaknya jawaban yang terlintas begitu sederhana: menemani dan menghibur dirimu.

Pada kesempatan ini aku bertanya kembali, persis dengan pertanyaan yang sama? Ah nampaknya ada sesuatu yang berbeda. Waktu terus saja menjawab dengan bijaksana, begitupula dengan dikau yang tumbuh dalam kedewasaan. Siapa gerangan yang tidak becita-cita melihat negeri ini kelak menjadi lebih baik? Siapa pula yang tidak berharap generasi berikutnya akan tumbuh dengan kebaikan dan ketulusan? Karena nampaknya dewasa ini terlalu banyak ketidakpedulian, kecemasan, kekhawatiran, dan hal lainnya. Nampaknya buku adalah salah satu cara yang mujarab untuk menyampaikan pandangan, menyebarkan paham-paham akan kebaikan, dan tentu, sekali lagi, inspirasi.

Lantas ingatkan aku, untuk tetap menjaga api yang ada pada diri. Hingga ketika tiba masanya sebagian dari aku dan dikau bisa menjadi seperti Imam Asy-Syafi'i, yang 1/3 dari bumi ini terang akan cahayanya. 

Lantas dalam perjalanan yang kita jalani, maukah dikau mengingatkan aku untuk selalu pulang? Untuk tidak melupakan dari mana aku berasal, untuk terus mengingat hakikat ke mana kelak harus mengabdi?
"Ketahuilah, Nak, hidup ini tidak pernah tentang mengalahkan siapapun. Hidup ini hanya tentang kedamaian di hatimu. Saat kau mampu berdamai, maka saat itulah kau telah memenangkan seluruh pertempuran"  - Pulang
Hai dikau, terima kasih untuk pertemuan yang amat teramat singkat, namun tentu sangat bermakna dan berkesan. Teruntuk negeri kita kelak, izinkan aku kembali mengingat esensi dasar akan ketulusan dan pengabdian. 

You May Also Like

4 komentar