Catatan dari Timur Pejaten

Terima kasih LPDL PK-51
Aku melemparkan pertanyaan, kenapa gerangan mereka harus hadir? aku menanyakan, kenapa gerangan mereka merepotkan diri berkunjung ke tempat ini?
Aku menuliskan dalam frame-frame mimpi.
Sampai pada suatu ketika yang telah lama aku ketahui,  aku memberanikan diri untuk menuliskan dengan amat sederhana. Bahwa kelak, pada tiba masanya, sesosok aku ini akan menjadi pengusaha yang amat matang, bermanfaat bagi nusa, dan teruntuk bangsa.
Adalah kakak-kakak itu ternyata yang membagi inspirasi kepada kami.

Kami, kita, adalah kesederhanaan, datang dari ketiadaan. Kelak hanya mimpi yang membuat kita menjadi  istimewa.
Maka sedikit demi sedikit aku mulai memahami, bangkit dari ketiadaan adalah sebuah kewajiban. Apa gerangan tugas kita semua? Tidak bukan adalah melanjutkan dan menjamin bahwa pada generasi berikutnya, akan tetap ada senyum-senyum yang dihasilkan atas iuran kontribusi ini. 

Kakak Bermata Teduh 

Aku melihat kakak bermata teduh sekali lagi. Matanya berbinar, memipih lambat, tanda yang amat jelas bahwa ketulusan amatlah terpancar. Matanya teduh, pandangannya amat teramat menentramkan, maka alunan lagu kami sungguh kami persembahkan untuk dirinya. 

Tak usah kau bersedih kawan. Bersama kita bisa, meraih semua harapan dan cita. Satukan tekad kita selalu, berjanji meraih mimpi, Pemuda Inspiratif.

Maka sampaikanlah aku, versi fiksi dari diriku menyampaikan terima kasih. Terima kasih menembus langit, memancarkan doa yang benderang, semoga kebaikan kakak terbalaskan. 

Semoga aku yang menjadi versi fiksi dari diriku bisa menjadi bagian dari lilin-lilin kecil yang cahayanya hangat, menyipitkan pandangan mata, namun menentramkan dalam gelap. Terima kasih kakak, sekali lagi, terima kasih :)

Aku dari diriku yang lain, dengan jalan yang berbeda, ingin menjadi Dokter :)
Aku (dari diriku yang lain), menuliskan dalam frame-frame mimpi.
Semoga tuhan memeluk mimpi-mimpi kita semua, menjadikannya penerang.
- Catatan dari Timur Pejaten

You May Also Like

0 komentar