Diantara Tokyo dan Paris

Bagi sebagian orang, Jepang sekali lagi tidak akan pernah luput dari impian mereka. Siapa pula yang tidak berhasrat untuk melihat Tokyo? yang katanya merupakan salah satu kota terbaik di dunia. Pun akhirnya banyak cara untuk mewujudkannya. Salah satunya dengan berkompetisi dalam bidang karoke. 
Suasana kompetisi ASIA KARAOKE NODOJIMAN di FX Senayan (5/14/2016)
Menarik mengamati dari jauh makna dari kompetisi tersebut. Kegiatan ini diberlakukan untuk mereka yang “amatir”, sehingga tentu saja kualitas vokal yang didapatkan belum sempurna. Namun terlepas dari itu, terlepas dari impian mereka untuk menang (dan pergi ke Jepang tentunya), kompetisi adalah hiasan dan intuisi semata. 

Mereka layaknya seniman, yang tegar dari segala bentuk ketidakpedulian. Mereka layak pula disebut penyair, yang prosanya tetap saja bisa membangkitkan hasrat.
Bagi mereka, tentunya menang bukanlah ukuran yang nyata. Hal yang kecil teramati adalah senyuman dan tepuk tangan dari penonton, sudah amat membuatnya bangga. Maka semoga kelak bagi mereka yang mendambakan Tokyo, suatu saat mimpi mereka akan tercapai, melihat bagaimana indahnya lampu-lampu Tokyo melebur di kala pagi. 

Kembali ke Paris

Aku juga memiliki cerita lain. Karena sedikit pun tidak pernah berubah. Masih tetap sama pada saat tahun-tahun sebelumnya, tahun di mana aku mengamati sebagian kecil Paris pada film “Sang Pemimpi”.
Aku selalu berhasrat untuk memimpikan, menyentakkan dan menanyakan secara langsung,

Bagaimana kabarmu, Paris?
Maka tunggu sedikit lagi, hingga sekian tahun itu, aku akan memenuhi janji terhadap diri sendiri. Untuk terus memeliharanya sehingga iya akan terwujud. Untuk terus mengatakan bahwa kita sebenarnya bisa. 
Desktop dan Eiffel. Sumber gambar pada tautan berikut.
Maka di antara Tokyo hari ini, sekali lagi aku telah mengingat proses selama tujuh tahun ini. Tunggulah sedikit lagi, aku akan datang.

Antragama Ewa Abbas
Jakarta, 14 Mei 2016.

You May Also Like

2 komentar