Catatan dari Timur Pejaten (ii): Be SMART to Be A STAR

Cerita tentang Bintang


Tidaklah khawatir menjadi bintang, karena berdasarkan prosa lama juga, kita sudahlah mengetahui bahwa bintang tidaklah tunggal. Jumlahnya tidak terhitung di angkasa sana, dan jelas, ia tidak tunggal. Ia tidak akan terang kalau sendiri, tidak akan indah dan menderang jikalau mengekspresikan dirinya secara tunggal. Ia komunal, bersama-sama menerangi, hingga begitulah, indah. Iya bersama-sama, kawan.

Sebagai individu, maka kita memiliki pilihan: membiarkan diri kita bersinar, atau membiarkannya meredup. Yang tentunya harus digarisbawahi adalah, kita tidak perlu menjadi bintang atas diri orang lain. Maka cukuplah diri kita, menemukan peran di muka bumi ini sesuai apa yang menjadi jalannya. 

Aku dan Masa Depanku: Be Smart to Be A Star!

S - Saya Oke 

Ukuran pertama haruslah "saya oke"! Kita harus percaya bahwa kita diciptakan untuk suatu tujuan, untuk suatu peran , tidak hanya untuk membuat bumi ini penuh. Maka kenali diri sendiri, tanamkan bahwa penciptaan atas kita bukanlah kesia-siaan. 
Beberapa pemuda menceritakan bahwa mereka harus yakin atas diri mereka.
Untuk mengembangkan potensi diri, tahu jati diri sendiri, menambah kecintaan terhadap rumah inspiratif.

M - Memiliki Gambaran Masa Depan

Aku teringat seorang adik, seorang siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP). Kala itu kami menutup mata, membayangkan akan jadi apa kami 30 tahun mendatang. Membayangkan bangun pagi, bersiap untuk berkontribusi apa hari ini. Kami menggambarkan dengan jelas pula, apa yang kami bayangkan. Tentang apa-apa yang akan terjadi kelak. Bagaimana bahagianya kami di hari itu. 

Aku kembali mengamati adik tersebut, mengamati matanya yang setelah membuka mata amat berkaca-kaca. Pastilah hasrat telah merasuki dirinya. Hasrat akan cita-cita. 

Aku bertanya, ceritakan apa yang kamu gambarkan. Ia kemudian menjawab dengan bergetar: lulus dari Universitas Indonesia (UI), menjadi Dokter Kandungan. Membantu orang-orang di Pejaten ini.

Aku bertanya pula, jikalau kelak ibumu melihat dirimu di masa depan, apakah yang akan beliau katakan?
"Nak, Ibu bangga karena kamu sudah bisa menjadi dokter dan menolong banyak orang" - Jawabnya
Aku bertaruh untuk keberhasilan adik ini kelak :)

A - Aksi

Hal-hal diciptakan secara dua kali. Penciptaan pertama melalui pikiran, penciptaan kedua melalui tindakan. Membangun jembatan contohnya, perlu melawati tahap perencanaan dan gambar teknik yang tentunya begitu rumit, ini adalah penciptaan pertama. Proses selanjutnya penciptaan kedua adalah proses membangun jembatan tersebut secara fisik: memadukan baja, semen, beton, hingga terjadilah bangunan sesuai dengan rancangan pada penciptaan pertama.

Jangan berhenti pada proses pertama, karena tanpa aksi, kita hanyalah menjadi pemimpi kosong.

R - Respect Terhadap Orang Lain 

Karena sejatinya yang akan membantu kita adalah orang lain. Tanpa menghormati mereka, kita akan kesulitan sekali mencapai mimpi-mimpi kita. 

Tetap di Jalur

Dalam perjalanan tentu saja kita seringkali berada di luar jalur. Terdistraksi oleh hal-hal lain, adanya dorongan untuk menyerah, melenceng arah, dll. Tetap di jalur kawan, bagaimanapun juga, selalu temukan jalur kembali ketika tersesat. Jangan melenceng terlalu jauh ya! 

Epilog

Begitulah kira-kira isi dari materi pengembangan diri yang disampaikan oleh Nathanael EJ Sumampouw (PhD cand.) yang juga awardee LPDP PK-51. Selamat berjuang menjadi bintang, teman-teman :)

You May Also Like

1 komentar