Dimensi Antara Perpisahan dan Kebiasaan

Dimensi antara perpisahan dan kebiasaan.

Aku memulai hari-hari dengan cara yang sama, namun perlahan beberapa hal terlihat berbeda, menyebalkan memang. 

Ada kebiasaan-kebiasaan yang memang seharusnya dilakukan, misalkan sapaan bersemangat dari Cibubur sana setiap paginya. Walaupun selalu datang jam 10, aku selalu merindukan sosok kawan ini. Belakangan aku mengamati, perjalanan pagi, menembus kemacetan Jakarta, kemudian melakukan rutinitas yang amat panjang, tidak membuat sesosok kawan ini berhenti untuk belajar. Ketika weekend datang, tepat di mana sebagian dari kami bisa sedikit "bernapas", sesosok kawan ini lagi-lagi menyibukkan dirinya dengan berkuliah. Tidak ada hari tanpa perjuangan, katanya. 

Aku selalu bersemangat menunggu sang kawan datang, bercerita dan berbagi mengenai inspirasi-inspirasi di setiap pagi. Kemudian petang, menghabiskan waktu di meja makan sembari menunggu waktu yang pas untuk merebahkan diri di Masjid Mandiri. 

Aku selalu bersemangat menyebarkan poros-poros mimpi, karena sesosok kawan ini merupakan orang yang amat aku percaya, antara niat, ketulusan hatinya. Aku memang bukan petaruh yang handal, tapi aku selalu tahu bahwa dia akan menjadi orang yang bersinar kelak.

Ah, semenjak kelulusannya, banyak hal yang tetap dilakukan, tapi lebih banyak kesendirian yang menemani aku. Sungguh dimensi yang paling pahit dari setiap perpisahan adalah mengganti kebiasaan-kebiasaan. 

Kebiasaan Lainnya

Ada pula kebiasaan-kebiasaan lainnya, seorang teman dari Bekasi (yang konon katanya berada di luar planet sana), selalu menanyakan hal yang sama setiap pagi:
Aduh gue masih kejebak macet, si mba nanyain gak?
Kawan yang satu ini juga sungguh luar biasa, dikaruniai pemahaman yang amat logis dan runut dalam menjabarkan kasus, ditambahkan kemampuan attention to detail yang sangat baik, membuat dia merupakan orang yang paling tepat mengisi pos CBORC Cards and Loans.

Beberapa hal menjadi aneh, ketika tidak ada lagi terpaan kusut di cubicle karena keterlambatan, panggilan-panggilan dari Mba yang tidak terjawab, diskusi atas proyek-proyek aneh dengan arahan yang sangat minim, dan banyak hal lainnya. 

Kawan yang satu ini juga yang pasti pejuang tangguh. Maka setiap individu menyimpan banyak pelajaran, begitu pula tentang dirimu. 

Ah, semenjak kelulusannya, cubicle, terutama di pagi hari menjadi berbeda. Kami harus lagi membiasakan diri dari ketiadaan. 

Makan Siang dan Cerita Pertama

Pada makan siang perdana, aku berkesempatan berkenalan dengan kawan lainnya. Kepribadiannya teduh, dengan pencapaiannya yang luar biasa, ia sungguh jauh dari kata sombong. Cerita pertamanya kala itu cukup menyeramkan: bagaimana terpaan pekerjaan yang datang tiada henti.

Kami banyak bercerita tentang Rumbai, tempat iya dibesarkan. Melalang buana sekolah ke USA, dilanjutkan dengan menempuh pendidikan di Eropa, bagian mana lagi yang kurang sempurna? 

Iya juga banyak menceritakan tentang hubungan super yang kawan ini jalani selama enam tahun, terpisah benua, terpisah waktu, dan selalu menyenangkan mendengar kisahnya. 

Kami juga banyak berbagi peran pada pekerjaan, maka sungguh beruntunglah diriku mempunyai "jembatan" yang tepat untuk banyak urusan-urusan yang harus diselesaikan.

Maka tepat hari ini, ketika ada rapat besar dan ketiadaan menghampiri dirinya, repotlah urusan itu

Tentang Kelulusan 

Jangan biarkan kenangan menghambat masa depan. Kenangan adalah kenangan, ambil sisi positif dari kenangan - Bang Toman



Semoga kalian sukses kelak ya!

Disclaimer

Edisi membiasakan diri, rindu dengan kebiasaan dan keberadaan kalian. Ah, satu lagi,
Kalian tentu tidak pernah pergi dan meninggalkan, karena perpisahan hanyalah tata bahasa dan sesungguhnya semu. Kalian ada di hati kawan, hakikatnya, abadi.
Zulfikar' last day
Alifia' last day
Sampai jumpa kelak, Zul, Alifia, dan Afina.

Regards,
Antragama
 

You May Also Like

0 komentar