Menanti Panggilan ke Tanah Suci (I)

Tra, nanti kalau memang lagi rezeki Umrah gih sana - Ibu
Selepas selesai menyelesaikan studi di Inggris, Ibu pernah berkata demikian. Kala itu, saya hanya mengangguk saja. Lalu semua berlewat dan lalu begitu saja.

Kemudian-kemudian yang lain

Tepat pada awal dua ribu delapan belas ini, saya memang berniat untuk melakukan perpanjangan passport elektronik karena memang masa berlaku passport saya akan habis pada bulan Juni. Entah mengapa, proses antrian passport secara online bisa dibilang pada tahap mengerikan. Saya mencari tahu, ternyata memang pada awal tahun ini bisa dibilang musim umrah. Saya biasa saja, sampai akhirnya menyadari beberapa teman saya memang banyak melakukan umrah, saya melihatnya melalui banyak postingan pada Facebook, Instagram, dll.


Mengikuti secara tidak langsung

Lantas entah mengapa, salah satu teman pada lingkaran satu saya juga ternyata sedang bepergian umrah. Entah mengapa (lagi), tanpa sengaja saya secara tidak langsung mengikuti proses persiapan dan perjalanan itu, yang ternyata, amat menginspirasi. 

Teman saya bercerita dari persiapan Visa, pencarian Travel, persiapan vaksin meningitis, rute perjalanan Banjarmasin - Jakarta - Jeddah - Madinah - Mekkah, serta beberapa tempat yang baginya teramat mudah untuk bisa terharu, mengingat-ngingat tentang banyak pertanyaan yang harus Ia cari jawabannya. 

Meletakkan Mimpi 

Setelah hampir semua catatan pengharapan yang ingin saya dapatkan tercapai, maka tepat saya telah memulai mendefinisikan beberapa mimpi untuk tahun-tahun ke depan. Entah mengapa, secara tidak sengaja, saya banyak bertanya kepada Kakek dan Nenek, serta Ibu yang terlebih dahulu berkesempatan untuk berkunjung ke Tanah Suci. 

Hari itu, saya membayangkan saya ikut dalam solat berjamaah di Masjid Nabawi, lantas ikut ke Raudah, memanjatkan banyak doa-doa atas kesalahan masa lalu, dan kebaikan yang akan dilakukan akan masa depan. Lantas mengunjungi Masjid Kuba, lalu Jabal Uhud. 

Saya banyak berterima kasih atas insiprasi yang begitu luar biasa, yang semanjak saat itu, saya meletakkan banyak doa agar bisa memenuhi panggilan ke Tanah Suci atas izin Allah swt kelak. 

Entah, secara amat tidak sengaja, ada banyak hal pula yang saya bisa visualisasikan mengenai Aku, Engkau. Semoga diberikan jalan oleh-Nya, atas semua mimpi-mimpi baru, Insya Allah. Terima kasih.
Masjid Nabawi
Barangkali nanti pada suatu sore saya berjalan di pelataran Masjid Nabawi, yang membuat ketenangan dan kebahagian sesederhana itu. Lalu aku tersenyum, semesta lalu sepakat. 


You May Also Like

1 komentar